Waktu
waktu memang berlalu
dimana waktu menjadikanku semakin dewasa
waktu juga memaksaku meninggalkan masa lalu
dengan waktu aku bisa melangkah menuju masa depan
kenapa waktu?
membuat diriku hanyut akan peristiwa penuh kenangan
menapaki satu persatu detik menuju menit
terbuai akan tawaran jam menuju hari
memang waktu tak selamanya terukir indah
mempersatukan manis serta pahitnya hidup
waktu selalu menemani, tetapi tak sanggup menolong
ku ucapkan terima kasih
bersama waktu, ku ukir kenangan indah
dan seolah terhanyut kenangan pahit itu bersama waktu
Jumat, 13 Januari 2017
Minggu, 01 Januari 2017
Cerpen Corat Coret "Nasip Gue"
Nasip
Gue
Zaman modern seperti sekarang ini
semuanya pada naik. Nggak Cuma makanan pokok, rempah-rempah, tetapi harga diri
juga ikutan naik, hehehe… Gara-gara itu, hutang gue juga ikutan naik. Hutang
sana, hutang sini, bikin nyesek di hati. Mau gimana lagi, uang nggak ada akibat
kerjaan yang tertunda. Tertunda bukan karena lagi cuti, tapi memang belum dapet
kerja yang pas di hati.
Gue udah kayak Bolang di tahun
millenium, berpetualang bukan karena ingin berbagi ilmu, tetapi berpetualang
mencari kerja yang sesuai kemampuan. Lompat dari kantor satu ke kantor yang
lain, tapi hasilnya nihil.
“Maaf bu, lagi nggak buka lowongan”
sahut pak Satpam maupun Resepsionis yang
gue datangi di berbagai kantor.
GUE NYERAH…!!! Gue melampiaskan
kekesalan gue pada rumput yang bergoyang di Taman Kota. Nggak ada lowongan,
bikin kepala lempuyengan. Hutang nambah, membuat gue makin susah. Hidup jadi
nggak karuan.
“Jangan nyerah dong Nan, loe pasti
dapet kerja. Mungkin itu hari apes loe. Siapa tahu sekarang hari keberuntungan
loe” sahut Duta yang selalu memberi semangatnya ke gue.
“Kayaknya semua hari pada musuhin
gue”
“Hari nggak punya hati yang bisa
membenci”
“Tau ah!!”
Gue pergi, lagi males mengeluarkan
semangat yang lagi terkubur jauh di dalam diri. Mungkin nanti, saat saat kerja
akhirnya pada menanti.
***
Pagi
hari yang sama seperti biasanya. Gue duduk santai di depan rumah yang tampak
sepi. Orang tua nggak ada, saudara pun tak punya.
“Ini
dia, si Nanda yang cantik jelita. Bayar hutang loe 1 bulan yang lalu. Semuanya 1
juta!” teriak bu gendut yang nongol tiba-tiba membuat gue kaget luar biasa.
“Astagfirullah,
saya kira siapa. Ternyata ibu” sahut gue sambil menghampiri bu Gendut.
“Siapa
lagi kalau bukan gue. Cepet bayar!”
“Hehehe…dompet
saya lagi mampet nih bu, kosong melompong. Bayarnya 1 minggu lagi ya bu” ucap
gue sambil cengengesan.
“Udah
bosen gue kasih loe waktu, jatuh temponya udah 1 bulan yang lalu.”
“Janji
deh bu, minggu depan saya bayar”
Bu
Gendut merenggus. “Oke, ini kesempatan terakhir loe. Kalau minggu depan loe
nggak bayar, gue terpaksa panggil Polisi”
Kejam amat sangat bu gendut. Utang
gue ke bu gendut diakibatkan karena sebuah parfum mewah yang gue beli di bu Gendut. Dulunya gue punya kerja, uang pun ada. Tapi
karena PHK besar-besaran saat itu, jalan gue untuk mencari uang menjadi buntu. Bukan
uang yang mengalir, tetapi air mata gue.
Hutang gue di mana-mana. Sebelumnya
gue hutang di 4 orang dengan kasus yang sama. 3 orang yang selalu menagih
hutang ke rumah, berubah jadi ramah karena uang mereka sudah di jamah. Yang 1
lagi selalu galak sampai kuping gue hampir meledak. Bukannya sombong, uang 1
juta biasa gue pegang waktu masih
merdeka, sekarang uang segitu membuat gue menderita.
Kedua orang tua gue nggak mau tahu.
Kata mereka yang punya hutang itu gue, dan yang menyelesaikannya juga gue
sendiri dan harus bisa mandiri. Orang tua gue malah asyik-asyikan di kampung.
Gue di tinggal sendiri di rumah ini.
Satu minggu berlalu dengan cepat,
uang pun belum gue dapat. Mencari kerja sudah, tetapi lagi-lagi gue menyerah
dan pasrah.
“Hiks..hiks.. bu saya mohon bu,
kasih waktu lagi. Saya sendiri di sini bu, orang tua saya lagi nggak ada,
tolong buuuuu…” gue berlatih di kamar untuk menghadapi omelan ibu gendut yang
membuat gempar. Sampai meler-meler sebagai tanda seriusnya gue berlatih
diharapkan membuat ibu gendut iba dan memberi waktu jua.
“Permisiiii….” Teriak seorang cowok
dari arah teras rumah. Gue mengintip dan berfikir, “Siapa tuh? Apa gue punya
hutang lagi di orang lain ya? Yang 3 udah tuntas, lah yang ini siapa?”
Gue keluar dengan percaya diri. “Iya
mas, cari siapa” Tanya gue dengan bego nya.
“Cari mbak Nanda”
“Owh iya saya sendiri” jawab gue
polos
“Saya mau nagih hutang mbak?”
“Saya ngutang juga sama mas ya?
Ngomong-ngomong hutang yang mana ya?”
“Bukan sama saya mbak, tapi sama bu
Gendut. Saya Cuma disuruh nagih saja.”
Gue menggangguk paham. Rupanya
cowok yang gue taksir berumur 27 tahunan ini anak buah bu gendut. Jadi malu gue, masak cewek cantik kayak gue
punya hutangan. Mana yang nagih orangnya cakep. Harga diri gue tiba-tiba
melayang, jauh tak terbayang.
“Mas, bilang sama bu Gendut ya,
Saya bayarnya 2 hari lagi. Belum ngambil uang di Bank” ucap gue pelan. Cowok
itu mengkerutkan keningnya. “Janji mas, 2 hari lagi mas ke sini lagi ya, Udah
ya mas, saya buru-buru nih?” gue berlagak sok sibuk. Emang sibuk sih, sibuk
mencari kerja di kota Jakarta, susahnya memang nyata, sampai gue nggak sanggup
berkata-kata.
“Tapi mbak…”
Gue pergi, pura-pura nggak
mendengar panggilannya.
“Jaman sekarang, susah banget jadi
penagih hutang. Yang punya hutang malah sok sibuk.” Gerutu mas penagih hutang.
Gue cengar cengir aja, pura-pura bahagia, menyembunyikan duka yang ada.
Di jalan, gue berfikir keras. hutang
Cuma 1 juta, tapi susah banget buat ngelunasinnya. “Ya tuhan, kasih gue rezeki
hari ini donk, please…”
Hp gue berdering, sms dari Bapak
gue.
|
From
: Bokap_Q
GIMANA HUTANG LOE?
|
|
From
: Bokap_Q
Semangat ya..maaf, uang bapak udah
habis buat beli Sapi … :D
|
|
From
: Nanda
Belum lunas pak..:’( , bantu pak..
|
***
Dua
hari berlalu…
Terasa
cepat bagi yang lagi hutang, terasa lama bagi yang nagih hutang, karena nggak
sabar dapet uang. Hati si penagih pun riang.
“Permisiiii….mbakkk
Nandaa”
Gue
mengirup nafas panjang, siap-siap mencari alasan yang lain. “Iya”
“Uangnya
mana mbak?”
“Hehehe”
“Saya
minta uang mbak, bukan minta senyumnya mbak” ucapnya.
“Saya
Cuma ada uang 300 ribu nih mas. Sisanya besok-besok ya?” sahut gue.
Beruntungnya Duta mau kasih gue pinjem uang sakunya selama seminggu untuk makan
selama kuliah di Jakarta.
“2
hari yang lalu, gara-gara mbak nggak bayar, saya kena omel besar-besaran sama
bu Gendut. Emang hutang apaan sih mbak, sampai sejuta?”
“Waktu
itu kan saya lagi khilaf. Tahu kan mata nggak bisa bohong. Begitu lihat barang bagus,
langsung deh beli tanpa pikir panjang. Padahal uang lagi renggang.”
“Saya
tahu mbak. Soalnya mantan pacar saya juga dulunya gitu. Saya jatuh cinta sama
orang yang punya hutang sampai 30 juta. Tapi karena nggak pernah nyerah dan
saya selalu nyemangatin pacar saya biar jangan menyerah. Dalam waktu 1 bulan
saja, hutangnya lunas.”
“Curhat
nie?. Tapi…Semangat mas ternyata manjur buat bayarin hutang ya. Semangatin saya
dong, biar hutang saya lunas juga, haahaha… Oh ya dari tadi kita belum kenalan
loh. Nama mas siapa?”
“Nggak
usah panggil mas, saya bukan keturunan orang Jawa. Panggil Wisnu aja” ucap Wisnu.
Nggak nyangka, Wisnu si penagih hutang pengganti ibu Gendut ternyata nggak
seseram bu Gendut dan walaupun ada tampang penagih hutang, dalam dirinya baik.
“Oke,
saya Nanda. Kalau bisa puter waktu, saya pinginnya nggak ngutang Wis. Nggak
pernah tenang hidup saya.”
“Iya
saya tau. Mana ada yang mau sih punya hutang kalau nggak kepepet”
“Bener.
Kuliah saya cuti, masih fokus cari kerja dulu. Orang tua di kampung dan sudah
punya anak baru, saya dibuang” nada suara gue berubah menjadi pelan dan terdengar
sedih.
“Punya
adik kok sedih?”
“Sapi…!
Anak baru yang gue maksud Sapi. Kalau adek baru sih saya seneng Wis, tapi
masalahnya ini itu Binatang.”
“Whahahahahaha….”
Wisnu tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban gue. Apanya coba yang lucu. Gue
makin sebel bertubi-tubi. “Sudah dulu ya, ceritanya kita lanjut kapan-kapan
lagi. Saya pergi dulu.” Gue mengangguk.
Wisnu
rupanya orang yang menyenangkan. Walaupun perbincangan kami sangat singkat.
Terlihat akrab antara penagih hutang dan yang punya hutang. Lucu juga sih. Tapi
dengan begini, setidaknya jantung gue nggak berdetak sekencang dulu, waktu
berhadapan langsung dengan bu Gendut yang tiap hari wajahnya mengkerut kayak Badut.
Dari
kejauhan gue lihat Duta, teman seperjuangan gue waktu masih kuliah. Sekarang
masih sih, Cuman dia tetap kuliah, sedangkan gue cuti sementara.
“Siapa
tuh? Pacar loe? Loe gitu, punya gebetan nggak bilang-bilang. Titel gue sebagai you’re best friend terasa dicabut” sahut
Duta.
“Hahahaha…bukan
lah, dia penggantinya bu Gendut.”
“What? Nagih hutang?” sahut Duta kaget.
Gue
mengangguk, tapi tetap tersenyum.
“Tumben
amat loe senyum-senyum gitu habis ditagih hutang. Biasanya muka loe lecek
banget. Kayaknya ada sesuatu gitu. Gue jadi curiga. Jangan-jangan antara
penagih dan yang ditagih ada somethink
deh!”
Ucapan Duta sontak membuat gue
diam. Apaan coba? Nggak ada salahnya kan senyum.
“Nggak lah. Tapi lumayan cakep juga
tau. Gue mau dah kalau jadi gebetannya. Orangnya enak diajak ngobrol” sahut gue
girang. Ucapan gue jujur dari dalam hati.
Ciehh..yang jatuh cinta sama Lentenir..hahahaha”
“Tau ah, nggak denger gue!”
***
Berlahan
hutang gue makin menipis. Syukurnya gue mendapat kerja di salah satu Restoran
di Jakarta. hutang lunas dengan waktu 1 bulan saja. Selama 6 kali gue cicil
hutang gue ke ibu Gendut lewat perantara Wisnu, selama 6 kali juga gue berbincang
ria dengan berbagai topik dengan Wisnu.
Sudah 1 minggu gue nggak bertemu si
penagih hutang yang cakepnya bertubi-tubi yaitu Wisnu dan terjadi terus menerus
hingga 1 tahun lamanya. Gue kangen Karakternya yang ceria, asyik dan ramah,
membuat gue nyaman untuk curhat dengannya. Gue benar lupa meminta satu dari
banyaknya media sosial yang dia punya. Sepertinya Dia sibuk, begitupun gue.
Kerjaan gue yang mesti dikerjakan sampai jam 8 malam, memaksa gue harus ekstra
kerja keras.
Kini waktu setahun pun berlalu
dengan cepat dan ringan karena hutang sudah menghilang. Dalam waktu setahun
pun, gue berhasil membuat diri gue menjadi Mahasiswa aktif kembali di kampus.
Bertemu dan selalu bersama sobat gue si Duta, membuat hari gue berlahan terisi.
“Dek,
sini dek” panggil Duta.
“Gaya
loe. Mentang-mentang loe 1 tingkat di atas gue, loe jadi belagu.”
“Hehehe, sory Nanda cantikk..”
Beragam kehangatan kembali gue
rasakan saat kembali ke kampus. Bulian terus gue terima, bulian yang memecahkan
tawa gue di kampus. Gue selalu di panggil “adek”. Padahal gue seumuran dengan
mereka di kelas. Dasar!!
“Hei
bro..” panggil seseorang yang muncul dari atas tangga.
“hei
Wis, apa kabar bro” jawab Duta. Gue bengong, itu Wisnu kan? Wisnu si penagih
hutang?
“Wisnu?”
Sapa gue dengan perasaan tak percaya. “Loe Wisnu kan?”
“Nanda?
hutangmu sudah jatuh tempo sekarang!” sahutnya. Itu bertanda bahwa dia itu Wisnu.
Temen sekaligus penagih hutang yang sudah setahun nggak berjumpa.
“WISNNNUUUU……”
reflex gue peluk dia. Gue bener-bener
nggak nyangka akan bertemu dengannya di kampus. Bagaimana ini bisa terjadi? Apa
ini suatu kebetulan?. “Gimana kabar kamu? kok bisa di sini sih? Kemana aja?
Hahaha…gue udah nggak punya hutang tau!” sahut gue gembira. Kegembiraan itu
meluap sampai membuat seluruh Mahasiswa yang berada di Loby menoleh, menyaksikan kejadian temu kangen gue dengan Wisnu.
“Jadi
si penagih hutang yang di bilang cakep, ceria, enak diajak ngobrol dan selalu
di kangenin Nanda, elo?” sahut Duta kaget.
“Apa?
Nanda kangen sama gue?”
“Iya”
“Apaan
sih” Sanggah gue dengan malu-malu.
“CIYEEEE…”
Rupanya Wisnu merupakan Mahasiswa
pindahan dari salah satu Universitas di Bali. Selama 1 tahun tinggal menetap
bersama ibunya di Jakarta. Dan akhinya kembali menjadi Mahasiswa aktif seperti
gue. Duta dan Wisnu adalah satu kelas sewaktu SMA di Jakarta. Mereka berpisah
ketika akan menjadi Mahasiswa. Duta memilih berkuliah di Jakarta dan Wisnu
berlayar ke Bali. Akhinya mereka bertemu kembali di Jakarta. Begitu juga dengan
gue. Setahun berpisah dan bertemu di sini melepaskan semua kangen gue ke Wisnu
yang mengendap di dalam hati.
Satu
Fakultas yang sama selalu mempertemukan gue dan Wisnu dalam berbagai situasi
dan kondisi. Wisnu yang sudah menetap di Jakarta menjadikan jalan kami berdua
untuk bertemu menjadi lebih mudah. Gue dan Wisnu selalu bertemu untuk sekedar
makan bersama. Sampai akhirnya, hati gue terasa diisi oleh kehadiran Wisnu yang
hangat.
Jujur, selalu bersama Wisnu adalah
hari yang menyenangkan buat gue. Si penagih hutang selalu menjadi seseorang
yang selalu gue pikirkan. Gue rasa sekarang gue lagi jatuh cinta. Cinta
gara-gara hutang 1 tahun lalu. Hutang itu membawa berkah.
***
Lama berselang sejak pertemuan yang
mengharukan. Bertemu setelah setahun berpisah. Hubungan kami semakin erat. Duta
pun sangat mendukung kami. Duta sangat mengenal baik Wisnu. Nggak heran, karena
3 tahun berteman pada saat SMA. Segala seluk beluk Wisnu dengan cepat diketahui
Duta. Karena itulah Duta selalu mempasangkan kami dalam segala keadaan.
|
From
: Wisnu
Sibuk nggak?
|
|
From
: Nanda
nggak? Ada apa?
|
|
From
: Wisnu
Gue mau kasih tau kamu sesuatu. Aku di
depan rumah kamu. Buruan keluar.
|
|
From
: Nanda
Tunggu sebentar..
|
Segera gue mempercantik diri.
Memakai pakaian yang pas untuk malam ini. Sedikit mengoleskan make up agar tak terlihat pucat.
“Ada
apa Wis,?” gue bertanya. Masih penasaran tentang sesuatu yang ingin dia
beritahu ke gue. Apakah tentang perasaannya ke gue? Ini semua membuat gue
semakin deg-degan, benar-benar nggak karuan.
“Aku
mau kasih tau kamu sesuatu. Sesuatu yang penting buat aku.”
“Apaan?”
“Tapi
sebelumnya gue mau Tanya, kamu kok cantik banget malam ini. Nggak seperti
biasanya.”
“Oh
ya?” gue jadi malu. “Sesuatu itu apa? Jangan buat gue penasaran?”
“Cinta..
aku cinta sama kamu. Itu sudah lama, sejak ke 5 kalinya kita bertemu dulu.
Berat rasanya sejak kita pisah. Gue berpikir kalau kita akan berpisah lama
karena aku mesti ke Bali. Tapi aku senang karena kita pisah nggak lama.”
“Setahun
itu lama tau..”
“Masak
sih..”
Gue
mengangguk. “aku juga suka sama kamu. Itu sudah lama terjadi. Sejak kamu pergi,
aku kangen. Saat kita bertemu selama setahun berpisah, pelukan erat itu sebagai
luapan rasa kangen aku ke kamu.”
“Nih
buat kamu” tangan kiri Wisnu mengeluarkan sebuah rangkaian bunga Mawar besar.
Sangat indah sampai gue terharu. Beginikah rasanya jika seseorang mengungkapkan
perasaannya ke gue. Gue sangat terharu. Sampai nggak sadar gue memeluk erat Wisnu
lagi. Pelukan gue dibalasnya.
“Aku
sayang kamu Nanda”
“Aku
juga, aku sayang kamu Wisnu”
Memflashback kejadian yang lalu, kami bertemu karena hutang. Nggak
selamnya hutang itu membuat yang punya hutang pusing tujuh keliling. Nggak
nyangka, hutang justru membawa kebahagiaan buat gue. Karena hutang, gue
menemukan cinta gue. Karena hutang, gue dan Wisnu bisa bersatu. Kami bersama
membangun cinta kami. Semua kisah ini bermula karena hutang.
Puisi Daku yang Tak Diinginkan
DAKU YANG TAK DIINGINKAN
Bisakah Daku hidup Ibu?
Bisakah Daku merasakan
hangatnya pelukanmu?
Merasakan belaian
lembut dari jemari indahmu?
Melihat senyum indah
nan merekah di wajahmu?
“Tak bisa!” Itu
jawabanmu yang membenturkanku pada batu kekecewaan
Daku yang terbuang sia
dari si rahim yang suci
Dan keluarlah Daku,
mengalir bak air kotor penuh noda
Tak taukah rasanya Ibu?
Kerasnya siksa terasa hina
Sakit! ketika benda
keras itu mencabik-cabik tubuh mungilku
Hancur menjadi manusia sudah
tak terbentuk
Dan jadilah Daku yang
tak diinginkan
Inikah aborsi? Apakah
tidak terlalu kejam bagimu?
Tak merasa iba, tak
merasa bahagia
Apakah kehadianku menyusahkanmu,
Ibu?
Jawaban yang Daku
dengar darimu begitu semu
Menjadi Daku yang tak
diinginkan
Kini sungguh! Sucinya Maaf
terbuka lebar bagimu
Biarkanlah, penderitaan
ini bersandar pada akhir yang indah di pangkuan Tuhan.
Langganan:
Komentar (Atom)