Sabtu, 26 Mei 2018

CERBUNG (Believe or Not #Part 9)

Kado itu berisikan sebuah boneka berbentuk tokoh kartun favoritnya,  Doraemon.  Sebuah kartu bertuliskan "bukankah kamu menyukai ini? ". Dia tahu,  yang menjadi pelaku utama kemungkinan Dito.  Karena selama ini hanya Dito yang mengetahui masa-masa kecilnya. Apa yang disukai apa yang dibenci.  Itu sudah pasti.

"Tapi,  bisa juga yang kirim ini Bemby" Celetuk Rindu di masa-masa kebingungannya melambung tinggi.

Debby menghela nafas,  lagi dan berulang kali.  Menggambarkan depresi yang berlebihan.

"Sudahlah,  urusan seperti ini tidak perlu dipusingkan berlebihan.  Bawa santai aja.  Setidaknya itu yang aku lakukan dulu.  Untuk itu aku berani berkata seperti itu."

Debby mengangguk.  "Benar juga.  Akan rumit jika dipikir rumit. Entah Bemby atau Dito,  mereka penuh dengan rahasia. Kisahku juga masih menjadi rahasia."

"Nah, mumpung tidak ada tugas,  bagaimana kalau kita shopping? "

" Setuju"

Bus datang di waktu yang tepat.  Bus 1001 akan membawanya ke pusat perbelanjaan yang cukup terkenal.  Debby dan Rindu duduk di dua kursi dari belakang.  Karena hanya kursi itu yang tidak diduduki penumpang.

"Kita akan membeli semua perlengkapan untuk weekend nanti.  Aku sudah tidak sabar untuk ke pantai yang kata kamu itu bagus" Ucap Debby dengan wajah sumringah.  Sangat berbeda dengan ekspresi sebelumnya.

"Sebenernya sih bukan aku yang bilang.  Teman-teman mengatakannya kepadaku kalau pantai itu bagus.  Ya sudah,  itu destinasi wisata yang patut kita coba kunjungi.  Semoga tidak mengecewakan"

Debby mengangguk setuju.

Gggrrookkk....

Percakapan mereka terganggu.  Ada seorang yang mendengkur sangat keras di belakang mereka berdua.  Wajah yang tertutup koran membuat wajahnya tidak terlihat.

Gggroookkk....

Sekarang Debby dan Rindu merasa jijik.  Tindakannya sungguh tidak tahu malu.  Semuanya penumpang menoleh ke arah laki-laki itu.

"Neng,  sebaiknya bangunkan temanmu" Salah satu penumpang menegur Debby dan Rindu.

"Dia bukan teman saya Pak"

"Bukannya kalian memakai seragam yang sama?"

Debby dan Rindu menoleh.  Memindai keseluruhan badan laki-laki yang tidur terlalu lelap.  Selama ini ia hanya memperhatikan koran yang menutupi wajahnya.  Tetapi ternyata seragam yang di pakai serupa dengannya.

"Hei,  Ba... "

Laki-laki itu bangun. Dia bangun lalu berdiri.  Koran dengan sengaja diletakkan di wajahnya.  Mungkin dia tersadar jika orang-orang di dalam bus membicarakannya.

"Berhenti pak"

Bis berhenti.  Dengan koran menutupi wajah, dia berjalan lalu turun.

"Makhluk aneh" Ucap Debby.

"Ada yang terjatuh.  Sepertinya milik penumpang aneh itu. "

Rindu mengambil barang itu.  Sebuah amplop coklat yang lumayan tebal.

"Apa ini uang?  Tebal sekali" Ucap rindu.  Tangannya tak berhenti membolak-balikkan amplop coklat itu. Mengamati dengan seksama dan jika itu benar uang,  ia akan takjub.

"Uang atau bukan,  sebaiknya kita kembalikan"

"Kepada siapa kita kembalikkan.  Walaupun orang itu bersekolah di tempat sama dengan kita,  bukan berarti kita tahu siapa pemiliknya.  Wajahnya saja diturupi koran"

"Urusan kita bertambah lagi.  Belum usai masalah Bemby dan Dito yang masih rahasia atau sengaja dirahasiakan.  Muncul lagi masalah baru.  Lama-lama kita bisa jadi detektif muda"

"Kita pikirkan nanti saja. Sekarang waktunya kita berbelanja.  Jangan sampai suasana ini dirusak dengan berbagai pikiran yang tak kunjung selesai.  Kita pikirkan nanti"

"Baiklah"

Bus akhirnya berhenti.  Pembicaraan mereka tentang segala sesuatu yang terjadi turut berhenti.  Sengaja dilepas untuk nanti ditangkap lagi.


#Day11
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara


Tidak ada komentar:

Posting Komentar