Jumat, 15 Juni 2018

CERBUNG (Believe or Not #Part 23)

"Ya sudah,  Tante ke kamar dulu.  Ada sedikit kerjaan"  Ibunya pergi neninggalkan Debby dan Bemby berdua. Langkah anggunnya berlahan meninggalkan ruang tamu.

Kini bebaslah Debby bertanya perihal kedatangan orang yang dikagumi dan dicintainya.

"Kamu ke sini pasti ada tujuan tertentu, kan?" Debby langsung bertanya ketika tubuh ibunya menghilang di balik pintu kamar.

Bemby berdehem,  diam sejenak lalu menganggukkan kepalanya.  "Tentu,  dan itu pasti.  Percuma aku mengumpulkan keberanian untuk datang ke rumah kamu jika tidak memiliki maksud dan tujuan tertentu. Hari ini kamu ulang tahun kan?"

Debby mengangguk,  "Tahu dari mana?".

Lagi-lagi butuh waktu yang lama untuk mendengarkan setiap jawaban dari pertanyaan yang diajukan.  Bemby selalu berpikir,  seolah merangkai jawaban yang pas untuk dijawabnya. "Tahu saja, pokoknya selamat ulang tahun ya.  Dan ini buat kamu.  Maaf,  hadiah ini tidaklah spesial,  kamu bisa membukanya nanti"

Cukup kecewa dengan jawaban yang tak sesuai harapannya.  Bemby meletakkan hadiah itu,  lalu Debby mengambilnya.

"Terimakasih,  bukan isinya yang penting, tapi niat.  Apapun pemberianmu itu sudah sangat berharga.  Sekali lagi terima kasih untuk hadiahnya" Debby begitu sungkan menerimanya,  tapi ini adalah hadiah yang sangat diinginkannya.  Impiannya untuk dekat dan semakin dekat dengan Bemby menjadi kenyataan.  Jalannya semakin mulus dan lancar saja.  Ia bersyukur atas itu.

"Sama-sama.  Oh iya,  akhir pekan kamu ada waktu luang? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.  Itupun kalau kamu setuju"

Kejutan lagi,  "Luang kok,  aku tidak ada acara sama sekali" jawabnya cepat. Sebenarnya akhir pekan Debby mempunyai janji dengan Rindu untuk menemaninya ke toko buku. Tapi ajakan Bemby membuatnya sedikit menjadi penghianat.  Hanya Rindu, ia yakin sahabatnya akan memahami keputusannya.

Ruangan senyap sejenak,  Debby memanfaatkan kesenyapan dengan memberitahukan kepada sahabatnya bahwa akhir pekan ia dan Bemby akan mengunjungi suatu tempat.

"Aku benar-benar minta maaf"

"Oke, aku bisa memindahkannya ke hari lain.  Tak usah dipikirkan.  Aku yakin kamu pasti bahagia hari ini" Sahut Rindu dari seberang sana.

"Kamu memang sahabat terbaik" emoticon mengakhiri percakapan mereka.

Percakapan mereka berlangsung.  Kadang kala diselingi senyum hingga tawa. Hati Debby begitu bahagia.  Sulit diungkap kata-kata.

Tanpa disadari,  ibu mengintip dari balik pintu.


#Day30
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Kamis, 14 Juni 2018

Sebuah Puisi " Salam Ramadhan"

Sebuah Puisi
" Salam Ramadhan "

Takbir bergemuruh, menelusuri setiap jengkal hati manusia
Riuh,  menentramkan hati yang tengah bersedih ditinggal bulan penuh keberkahan
Terasa riang,  karena esok hari penuh kemenangan
Begitulah yang aku rasakan.

Jika identitas ramadhan selalu menjadi saksi kebahagian
Merangkai kenangan yang hadir di dalam pikiran
Tawa riang berjalan menelusuri jalan
Menuju masjid dengan tangan menggenggam obor

Salam dari ramadhan,  bulan penuh keberkahan
Salam dari ramadhan,  bulan penuh kesucian
Salam dari ramadhan,  bulan penuh keimanan
Salam ramadhan,  bulan penuh kemakmuran

Sorak gembira saat hilal muncul dari balik langit temaram
Hangatnya kebersamaan sahur dan berbuka,  30 hari lamanya
Kesedihan saat esok tak lagi merasakan nikmatnya berpuasa
Namun,  bahagia menjadi jati diri baru di bulan suci bernama Ramadhan.


#Day29
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Rabu, 13 Juni 2018

CERBUNG (Believe or Not #Part 22)

Kado pemberian Dito masih terpajang di atas rak meja belajarnya.  Tidak sempat dibukanya karena kantuk menyerang tiba-tiba setelah acara kejutan berlangsung.

Debby terbangun dari tidur nyenyaknya. Meregangkan otot kakunya dan pergi mandi.  Hari ini tanggal merah,  sehingga dengan santai ia melakukan aktivitas apapun.

Tengah bersantai,  sambil mengeringkan rambut basahnya, mata Debby terfokus kepada kado pemberian Dito yang tak sempat dibukanya.  Ia mengambil kado dan membukanya.

"Lho,  Boneka ini?" Debby sedikit terkejut dengan boneka yabg yang serupa dengan pemberian seseorang yang masih misterius. Dilihatnya lebih seksama,  dan dibandingkan dengan boneka yang ada di atas kasur.

"Persis" gumamnya.

Debby berpikir,  jika seseorang yang memberikan kado biru dengan boneka Doraemon adalah Dito.  Apalagi pada hari itu bertepatan dengan kemunculan Dito yang setelah sekian lama menghilang.

Handphone diambilnya dari atas tempat tidur, jari jemarinya lihat mengetik pesan yang ditujukan kepada Dito.

"Aku ingin bertanya sesuatu,  boleh? "

Pesan dikirimkan.

Beberapa menit kemudian handphonenya berdering.

"Apa?"  Dito menjawab singkat.

"Apakah sebelumnya kamu pernah memberikan kado dengan isi serupa?"

"Tidak. Memangnya kenapa?"

"Oh,  tidak.  Hanya bertanya saja"

"Baiklah".

Bukan Dito,  dan yang lebih jelas lagi bukan Rindu.  Apakah ia akan bertanya kepada kandidat lainnya.  Bemby.

Secara kebetulan,  Bemby mengirimkan pesan pagi itu.  Sekadar mengucapkan selamat ulang tahun yang jatuh pada hari ini.

Paginya indah,  dan serasa hari baik berpihak padanya.  Seutuhnya.  Di hari ulang tahun menjadi hari terbaik dalam satu tahun.  Debby bahagia,  karena Dito kembali dan ia semakin dekat dengan Bemby.

Pintu diketok ibu.  "Ada temenmu nak" Teriaknya,  namun tetap bernada lembut.

"Siapa? Rindu?"

"Bukan.  Sebaiknya kamu keluar ya"

Debby menyisir rambutnya,  memakai make up agar wajahnya tak terlalu pucat. Dari atas tangga sudah terlihat sesosok laki-laki yang dikenalnya.

"Loh,  Bemby?" Sapa Debby.  Wajahnya sumringah.  Sedikit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya pagi ini.  Seseorang yang dicinta nya sekarang ada di rumahnya.

"Maaf pagi-pagi sudah bertamu"

"Tidak apa-apa,  Nak.  Lagian tante kaget juga kalau ada laki-laki selain Dito yabg yang bertamu mencari anak tante"

"Yang benar tante?"

"Ia"

"Saya kalah cepat.  Jika saja dari dulu saya mengenal Debby,  mungkin saya menjadi pengganti Dito" Bemby mengatakan tanpa ragu.  Debby hanya berdiri sambil berusaha memahami apa yang dikatakan Bemby. Berharap apa yang didengarnya tidak salah.

Bemby langsung akrab saja dengan ibu Debby.  Debby menceritakan bahwa Bemby adalah kakak kelas di sekolah yang sama. Debby menceritakan tentang Bemby yang hanya sekadar kakak kelas dan adik kelas. Namun ibu tak percaya,  karena ibu tahu bahwa Bemby menganggap Debby tidak sebagai adik kelas.  Melainkan seseorang yang spesial dihatinya. Bemby cinta kepada anaknya.

Debby belum mengetahui maksud serta tujuan Bemby datang kerumah dan mencarinya.  Karena Bemby terlalu asyik berbicara dengan ibu,  kesempatannya untuk bertanya tak pernah terbuka.

#Day28
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Selasa, 12 Juni 2018

CERBUNG (Believe or Not #Part 21)

Handphone Debby berdering lagi.  Kali ini dari Rindu.  Tepat pukul 12 malam, sahabatnya mengucapkan selamat ulang tahun.
Debby belum tertidur saat itu.  Seperti biasanya,  ia tidak terbiasa tidur lebih awal. Matanya terjaga hingga pukul 2 sampai 3 dini hari.  Terkadang ia tertidur pukul 5 pagi.  Debby terlalu sering mengalami insomnia.  Karena kesusahannya untuk tertidur,  membaca novel yang dibeli menjadi pilihan satu-satunya.

Dari seberang,  suara Rindu terdengar.

"Selamat ulang tahun sahabat.  Semoga pendekatan dengan si dia lancar ya.." Rindu mengikik,  terdengar seperti mengejek, namun dia serius mengatakannya.

"Baiklah,  aku amin-kan saja ya. Oh iya,  terima kasih.  Seperti biasa,  kamu yang pertama" Balas Debby.

"Tentu.  Besok jangan lupa traktir ya.  Hehehe"

"Siap"

Pembicaraan terputus. Akhir percakapan dengan kesepakatan yang setiap tahun dilakukan.  Traktir.  Entah Debby atau Rindu,  tradisi saling traktir makanan adalah kegiatan yang wajib dilakukan.

Belum lama handphone itu diletakkan, ada panggilan susulan.  Kali ini dari Dito.

"Ada apa, Dit?"

"Belum tidur?"

"Emm.. Belum"

"Bisa keluar sebentar?"

"Keluar?  Ada apa lagi?  Bukannya tadi kita sudah berbicara banyak?"

"Penting"

"Oke"

Panggilan dihentikan.  Dengan cepat ia keluar,  menemui sahabat lainnya,  Dito. Selama perjalanan singkat menuju lokasi yang dulu hingga sekarang dijadikan lokasi pertemuannya dengan teman,  sahabat sekaligus tetangga baginya, timbul rasa penasaran.  Apalagi yang ingin dibicarakan?  Padahal satu jam yang lalu, ia dan Dito baru saja menghabisakan pembicaraan dalam waktu yang lama.  Apa itu belum cukup?.

Dito berdiri membelakanginya, hingga yang terlihat hanya punggung dengan baju kaos berwarna hitam.

"Dito!" Panggil Debby.

Dito menoleh dan tersenyum, memperlihatkan deretan gigi yang putih dibawah lampu yang remang-remang.

"Happy birthday to you,  happy birthday to you..... "

Lantunan lagu ulang tahun yang turun temurun dinyanyikan oleh siapapun di dunia,  walau dengan bahasa yang berbeda, keluar dari mulut Dito yang tetap saja bersuara jelek menurut Debby.  Sambil bernyanyi,  Dito mendekat dan membawakan kue tart yang bersusah payah dibuatnya.

Debby memperlihatkan sikap malu-malunya.  Dito pun sebenarnya sama, berhasil ditutupinya. Debby sumringah,  sesekali tertawa melihat aksi kejutan dari Dito.

"Bagaimana?  Apa kamu terkejut?" Tanya Dito sambil menyerahkan bucket bunga yang dibelinya. "Semua ini khusus untuk Debby".

"kejutan lama yang akhirnya terjadi lagi.  Bukannya dulu kamu sering memberikan kejutan seperti ini,  terutama saat aku ulang tahun?"

"Masih ingat?"

"Tentu.  Emm.. Lama rasanya tidak menerima dan merasakan kejutan seperti ini karena kepindahanmu.  Kejutan kali ini terasa berbeda.  Mungkin karena vakum beberapa tahun" Ucap Debby.  "Bunga dan kue yang indah.  Terimakasih. Kamu memang yang terbaik dalam hal seperti ini".

"Hehehe.. Bukanya aku hebat? Aku yakin belum ada laki-laki yang memberikan sesuatu seperti ini selain aku.  Benar kan?" Dengan percaya diri Dito mengatakan kata-kata yang diyakininya benar.

Debby mengangguk.  Anggukannya menandakan apa yang dipikirkan Dito seratus persen benar adanya.  "Bagaimana kalau sekaranh kita makan kue"

"Siap!!"

Debby duduk bersama Dito di kursi yang selama ini selalu menjadi tempatnya bercengkrama.  Sejak kecil,  tempat itulah yang menjadi saksi perjalanan hidup Debby dan Dito menjalani persahabatan yang tidak putus hingga sekarang.  Walau pernah tak bersua dan berkomunikasi dalam waktu lama.

"Satu lagi,  ini kejutan terakhir" Dito menyerahkan kado yang disembunyikannya di bawah meja.

"Apa ini? "

"Bukan kejutan jika aku memberitahunya"

Debby mengambil,  meletakkan di pangkuannya.  Lahap ia menyantap kue yang diberikan Dito.  "Aku akan gemuk jika terus memakan kue ini" Sahutnya sambil tertawa.

"Tak apa.  Kamu tetap cantik walaupun kondisi badanmu gemuk macam sumo"

"Hahaha... Aku yakin tidak ada yang akan melirikku"

"Ada saja" Dito yakin.

"Jangan bergurau.  Aku yang kurus seperti sekarang saja tidak ada yang melirik" Debby pesimis.

"Ada"

"Tidak"

"Ada.  Itu pasti"

"Yakin?"

Dito mengangguk,  "yakin,  yakin yakin. Cuma kamu kurang peka saja".

"Benarkah?"

Pembicaraan berlanjut.  Debby gembira mendapatkan serta mengalami kejutan yang lama ingin dialaminya lagi.  Begitu juga dengan Dito,  kejutannya berhasil.  Keberhasilan itu menjadi akhir yang sempurna.

#Day27
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Senin, 11 Juni 2018

CERBUNG (Believe or Not #Part 20)

"Ada di rumah?"  Tanya Dito melalui pesan via whatsApp.  Debby membalas pesan Dito dikala keseruannya bercengkrama dengan ayah dan ibunya.

"Tentu.  Kenapa?" balasnya singkat.

"Ngobrol di taman yuk! .  Membosankan sendiri di rumah. Kesepian"

"Baiklah"

Tak berselang lama, Debby keluar dari rumahnya.  Dito sudah menunggu di luar dengan jaket yang membungkus tubuhnya. Suasana hari ini memang dingin.  Namun cuaca cerah setelah siang tadi hujan turun tanpa ampun.
Memerlukan banyak waktu untuk Debby dan Dito bercengkrama.  Membicarakan semua yang telah berlalu dan masa depannya nanti.  Menjelaskan semua yang ingin diketahui Debby.  Bagaimana ia bisa pergi begitu saja tanpa pemberitahuan yang jelas.  Padahal selama itu Debby dan Dito adalah sahabat dekat.  Lebih dekat dengan sahabatnya saat ini,  Rindu.  Tetapi tidak sekalipun Debby memutuskan tali persahabatannya dengan Dito.  Walaupun setelah kepergiaan tanpa kabarnya,  Debby selalu menggerutu dalam hati jika ia tidak akan memiliki sahabat seperti Dito lagi. Kenyataannya,  kembalinya Dito menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu. Sesekali debby menatap rumah yang hanya di isi oleh penjaga laki-laki bernama pak Hasan. Kerinduan kepada dito menjadi sesuatu yang menyesakkan hatinya.  Tidak aneh ketika ia terkaget-kaget melihat Dito kembali,  berdiri dan berbicara dihadapannya dengan tiba-tiba.

"Seharusnya kamu cerita.  Setidaknya bebanmu berkurang.  Selama ini aku yang paling setia mendengar keluh kesahmu. Apalagi yang kamu pikirkan?. Kamu tidak menganggap aku sahabat?  Begitukah? Jika benar,  aku benar-benar kecewa" Ucap debby tanpa henti.  Setelah mendengar semua yang ingin didengarnya.  Debby  merasa bersalah karena selalu salah sangka.  Tidak seharusnya ia berpikir seperti pecundang dan egois.

Dito mendongak,  menatap banyaknya bintang dan satu bulan sabit.  Suara jangkrik menderik,  membelah kesunyian yang yang hanya terjadi sebentar.

"Maafkan aku. Itu saja"

Debby menggeleng.  "Tidak ada yang perlu dimaafkan"

"Baik sekali.  Seperti inilah Debby yang aku kenal.  Yang selalu baik dan terbaik" Ucapannya diakhiri dengan senyuman.

Debby tersenyum dan ucapan dito sedikit menggelitik.  Dito yang dia kenal berubah menjadi sedikit lebih lebay.  Begitulah istilah yang sedang trend saat ini.

"bisakah kamu menemukan rasi bintang di sana? " Debby menunjuk langit.

"Tidak.  Aku hanya melihatnya saja sudah pusing" Dito cekikikan.

"Kamu tetap bodoh.  Seperti biasanya. Hahaha"

Suasanya dingin namun hangat berkat kedekatan mereka.

#Day26
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Minggu, 10 Juni 2018

CERBUNG (Believe or Not #Part 19)

Saat itu di rumah Dito...
Segala persiapan dilakukannya seorang diri demi menyambut hari bahagia untuk sahabatnya,  Debby.  Jika dikatakan terlalu berlebihan,  tidak terlalu juga.  Dito akan bekerja keras untuk memyempurnakan kejutan-kejutan yang tujukannya kepada Debby.  Beberapa tahun yang lalu,  sejak mereka berpisah karena kepindahannya, Dito tidak pernah sekalipun mengucapkan selamat ulang tahun.  Bahkan hanya sekadar mengatakan "hai"  pun tidak.  Dengan cara seperti ini,  Dito berharap ia dan Debby bisa menjadi dekat seperti dulu lagi.  Kejutan ini sekaligus menjadi tanda maafnya karena pindah dan menghilang begitu saja. Meninggalkan Debby,  Sendiri, tanpa teman sejati.

Dengan giat dan telaten,  tampak ahli Dito memasukkan bahan-bahan membuat kue. Lihai mendekorasi kue sederhana namun bermakna.  Keahliannya membuat kue dipelajarinya saat pindah bersama orang tuanya.  Tepatnya mengikuti kursus membuat kue.  Dito pikir membuat kue itu menyenangkan.
Dito hanya ditemani alunan musik kegemarannya.  Juga kegemaran Debby.  ia berpikir akan menyetel lagu ini setelah kejutan dan nyanyian ulang tahun. Keadaan rumah yang sepi membuatnya bebas berekspresi dengan mengeraskan volume musiknya.
Musik berhenti, lalu berganti dengan nada dering handphone.  Bemby menghubunginya.

"Oh hallo.  Aku mau minta tolong,  nih" Ucap Bemby dari seberang.

"Maaf.  Hari ini aku sibuk"

"Yaelah... Oke lah"

Telepon ditutup.  Alunan musik itu kembali mengudara hingga di setiap sudut rumah.

Dito mengintip dari jendela setelah terdengar suara deritan gerbang dari rumah Debby. Benar saja,  Debby tengah bertemu sahabat lainnya,  Rindu.
Sesekali berpelukan seperti tak pernah bertemu dalam waktu yang lama. Nyatanya ia baru bertemu beberapa Jam yang lalu. Dito hanya menyunggingkan senyumnya. Debby dan Rindu pasti sudah memiliki acara tersendiri untuk merayakan ulang tahun Debby.

Hanya membutuhkan beberapa jam saja untuk menyelesaikan misi kejutan untuk Debby.  Namun sedikit melelahkan karena bekerja sendiri.
Harapannya,  Debby akan menyukai semua hasil kerja kerasnya dan memasang kembali puzzle kenangan yang sempat hilang agar bisa kembali lagi.  Seperti dulu.

#Day25
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Sabtu, 09 Juni 2018

CERBUNG (Believe or Not #Part 18)

Hujan kini reda seutuhnya.  Menyisakan air hujan yang melekat di seluruh titik yang terjamah saja. Matahari terlihat dibalik awan kehitam-hitaman.  Menyibak sinar yang kini telah sampai ke bumi.  
Disepanjang jalan,  beberapa ibu terlihat memgeluarkan jemurannya yang tidak terkena matahari seutuhnya.  Begitu sibuk, hingga tidak mendengar sapaan dari Debby. Beberapa orang juga mulai beraktivitas keluar rumah.  Ada yang melanjutkan jalan-jalannya, ada pengendara yang keluar dari persembunyiaannya dari hujan. Semua itu terjadi juga dengan Debby.  Sedari hujan,  reda kemudian hujan susulan terjadi,  Debby dan Dito berjalan sembari bersembunyi dalam teduhnya payung. Membuka sedikit demi sedikit kenangan yang dahulunya terjadi. Bersyukurnya itu adalah kenangan indah bersama sahabat lamanya,  Dito. 

"Oh iya.  Aku lupa menanyakan satu hal,  Dit" Ucap Debby sembari menutup payung yang ia pegang. 

"Apa?" Jawab Dito singkat.
 
"Rumahmu.... "

"Oh rumahku?.  Masih rumah yang lama.  Rumah yang aku tinggali sejak usia 0 tahun hingga usia sekarang" 

"Kenapa aku baru tahu?  Kenapa tidak cerita? Jadi sekarang kita masih tetanggaan? Astaga!"

"Hehehe.. Iya aku belum siap saja.  Menunggu waktu yang pas.  Untuk kejutan nantinya.  Besok usiamu sudah 16 tahun kan?" Tanya Dito.  Mengejutkan Debby sekaligus karena sahabatnya begitu mengingat hari spesialnya.  Padahal Debby sendiri tidak mengingatnya sama sekali. 

"Baguslah.  Aku lebih leluasa untuk mempertanyakan segala hal yang ingin aku tahu selama ini.  Sejak kamu pergi begitu saja dan kembalinya kamu beberapa minggu yang lalu".

"Siap. Sebagai hadiah di usia 16 tahun, Kamu bebas menanyakan apa saja.  Bebas sepuas-puasnya" Ucap Dito sambil tersenyum dengan lebarnya. 

"Baiklah.  Persiapkan jawabanmu"

#Day24
#RamadhanBerkisah 
#PenaJuara 


 

Jumat, 08 Juni 2018

Sebuah puisi "Dia"

Sebuah Puisi
"Dia"

Hei,  siapa dia?
Lelaki tampan di dekat jendela
Raut wajah membuat merona
Duhai,  aku dilanda cinta
.....
Hei, lelaki sang perenggut cinta
Aku suka saat kita berjumpa
Saat kita bertatap muka
Juga saat kita mulai berbicara
.....
Aku dilanda cinta
Saat pertama kali berjumpa
Tertancap panah berlumur asmara
Bisa dikatakan menjadi cinta buta
.....
Duhai,  lelaki yang penuh pesona
Bisakah aku berharap tiga kata
Yang akan kau ucapkan tanpa derita
"aku cinta kamu" saja
.....
Apakah itu mustahil?
Berharap hasil tidak pernah nihil
Syndrom cinta yang aku derita
Sedikit membuatku merana
......
Dia,  dia dan dia.
Membuat hari-hariku semakin suka
Menghilang sudah kata duka
Karena sifatnya yang selalu jenaka
......
Sekarang? Bagaimana dengan dia?
Apakah juga cinta?
Apakah bisa suka?
Bersamaku akan bahagia.
......

#Day23
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Kamis, 07 Juni 2018

Kisahku

Bercerita mengenai kehidupan di masa anak-anak,  membawaku terbayang akan banyaknya senyum dan tawa. Di masa itu, yang ku lakukan hanya bermain bersama teman-teman sejawat.  Permainan sederhana terbilang tradisional,  namun membuat banyak kenangan dalam memori dan hati.
Susah rasanya menceritakan bagaimana bahagianya menjadi anak-anak pada zaman dahulu.  Tidak tercemar akan hidup modern dengan berbagai macam teknologi canggih dan terkini yang tidak sedikit membawa hal negatif dalam kehidupan.
Mengingat permainan sederhana seperti : petak umpet, kelereng,  masak-masakan, membuat rumah-rumahan dan sebagainya. Tentu semua itu murni dan alami. Tidak tersentuh teknologi sama sekali.
Beberapa kenangan masa lampau yang dapat ku ceritakan:
__sore itu,  mungkin sekitar jam 4 sore, aku bersama empat temanku membuat rumah-rumahan.  Mirib seperti tenda,  namun bukan terpal plastik yang dipakai sebagai atap,  namun kain bekas yang kami cari di rumah masing-masing.  Senja ditandai orang yang sedang tahriman di masjid, kami belum selesai membuat.  Hingga salah satu teman dimarah oleh ibunya karena tak kunjung pulang.  Kami membiarkannya pulang terlebih dahulu,  dan beberapa saat kemudian akhirnya selesai.  Kami berniat ingin menginap di rumah itu,  namun tidak diberikan izin oleh salah satu orang tua teman.  Akhirnya rencana kami gagal.
Sekarang semua itu hanya menyisakan kenangan.  Semuanya telah berubah.

#next

#Day22
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara


Rabu, 06 Juni 2018

Sebuah Puisi "Napas Terakhir"

Sebuah Puisi
"Napas Terakhir"

Hidup mendekati batas akhir
Dunia semakin menjauh dari diri
Saat kematian sudah tertakdir
Diri tak bisa berlari lagi
..... 
Saat ajal kian mendekat
Mengerikan!  Namun tak bisa berbuat apa
Hanya amal perbuatan yang melekat
Apakah surga atau neraka? 
..... 
Dunia sebagai tempat tinggal
Kini berpindah ke alam kekal
Tak adapun teman tuk meminta bantuan
Sendiri,  menghadap kepada tuhan
..... 
Persiapan menuju napas akhir
Dengan segala amal perbuatan
Jikalau sudah tiba
Tak ada yang bisa kita lakukan
..... 
Saat jiwa meninggalkan raga
Hidup bukan lagi soal harta
Bermewah-mewah hanya membawa derita
Menyesallah,  tak akan menjadi hamba mulia
..... 
Saat napas di ujung kepala
Melalui malaikat,  ajudan yang maha kuasa
Semua amal dunia
Terlihat dipandang mata
...... 
Wahai insan insani yang hidup
Jangan buat cahayamu redup
Jadikan napas terakhirmu bahagia
Bersama tuhan yang menanti di surga


#Day21
#RamadhanBerkisah 
#PenaJuara 

Selasa, 05 Juni 2018

Puisi (Energi dari Ibu)

Sebuah Puisi
"Energi dari Ibu "

Aku duduk terpaku
Termangun jua di depan pintu
Dengan hati terbelenggu
Menunggu kehadiran ibu
.....
Dia yang ku sayang
Wajah cantiknya terngiang
Yang tengah berjuang
Pendekar di medan perang
.....
Lama tak bertemu
Kini aku merindu
Yang menyukai warna ungu
Dialah ibu dan ibuku
......
Jam harus tunduk pada hari
Berganti bulan yang iri hati
Lalu tahun merasa dengki
Kapankah akan diakhiri?
......
Ibu,  pulanglah
Saat kau sudah merasa lelah
Aku di sini selalu gundah
Tak bisa lagi berucap lidah
......
Kepada ibu yang tengah berjuang
Kehadiranmu adalah energi
Yang membuatku selalu riang
Sedih,  itu tak akan ada lagi
......
Pulanglah ibu,  aku memohon
Kesendirianku membawa derita
Seperti hutan tak berpohon
Sepi, karena yang tercinta tiada
......
Energi terbaikku adalah ibu
Energi terindah adalah ibu
Energi yang membuatku bangkit
Hingga jauh dari rasa sakit.

#Day20
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Senin, 04 Juni 2018

CERBUNG (Believe or Not #Part 17)

Hujan tiba-tiba turun tepat setelah bel pulang berbunyi.  Pagi hari yang cerah tidak menjamin kedepannya akan cerah.  Debby sudah membuktikan beberapa kali.  Musim ini bukanlah musim hujan,  tetapi kadang kala hujan datang di waktu yang tidak tepat.  Hari ini saja hujan turun tanpa kode apapun,  sedangkan Debby dan kebanyakan siswa lain tidak ada yang membawa payung.

"Kita gimana pulangnya nih? " Rindu terlihat kesal." Hari ini aku ada janjian sama teman". 

"Teman apa teman?" Sahut Debby curiga.  

"Teman biasa sih"

"Apa temanmu yang itu?" Debby menunjuk seseorang yang tengah berada di dalam mobil yang terparkir di dekat gerbang. 

"Bener.  Kamu ikut aku ya.  Aku antar sampai rumah" Ajak Rindu. 

Debby menggeleng,  "duluan saja.  Sebentar lagi hujan pasti reda"

"Tapi kan..." 

"Sudah,  pergi saja"

"Maaf ya,  aku pergi dulu".

Tinggallah Debby bersama beberapa siswa yang memilih menunggu dibandingkan menerjang hujan yang lebat. Debby melakukan tindakan tersebut bukan tanpa alasan.  Sejak kecil Debby gampang terkena flu jika terkena guyuran hujan terlalu lama. 

"Hujan akan berlangsung lama.  Bagaimana kalau kamu ikut aku saja" Dito muncul tiba-tiba sambil membentangkan payung yang dibawanya. "Kali ini kamu tidak boleh menolak ya".  Dito mendekatkan badan Debby ke arahnya.  Berjalan beriringan di bawah payung yang cukup besar. Melindungi tubuh mereka berdua dari guyuran hujan. 

Debby tak bisa menolak.  Dia pasrah begitu saja ketika tangan Dito mendekap bahunya. Namun,  ia tetap berpikiran jika itu hanyalah tanda perhatian Dito sebagai teman lama yang akhirnya bisa bertemu kembali.
Dulu,  kedekatan seperti ini sudah biasa. Hingga kini,  Debby masih menganggap Dito sebagai sahabat terbaiknya.

Hari ini bus terlambat,  terpaksa mereka berdua harus berjalan.  Santai tapi sampai. Beruntung hujan mulai mereda di tempat yang tepat.  Taman yang menjadi kenangan mereka dulu,  sewaktu kecil.

"Ingat,  dulu kita sering sekali bermain di taman ini" Ucap Dito.  Bayangannya masih melekat di setiap jengkal tanah di taman itu.

Debby setuju.  "Terlalu banyak kenangan di sini". Memikirkan kenangan itu membuatnya tersenyum.

Hujan reda seutuhnya.  Dito menutup payung yang menaunginya dari rintisan hujan.

"Oh,  ada pelangi" Debby menunjuk langit dengan pelangi yang begitu memukau mata.

"Benar.  Ini bukan pertama kalinya kita melihat pelangi bersama ya"

"Emmm.. Mungkin sudah ke 12 kalinya. Oh lain kali kita bisa melihatnya lagi"

"Aku setuju"


#Day19
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara




Minggu, 03 Juni 2018

CERBUNG (Believe or Not #Part 16)

"Kamu punya rahasia ya?"  Tanya rindu di sela-sela pelajaran bahasa Indonesia.

"Tidak ada" Jawab Debby dengan pelan dan hati-hati.  Kepekaan guru bahasa Indonesia sudah diakui seluruh sekolah. Ketahuan berdiskusi di luar pelajaran, tamat sudah riwayat Debby dan Rindu.

"Ehem,  jujur saja nih.  Tadi aku sama Dito lihat kamu sama Bemby lagi janjian buat saling tunggu menunggu.  Iya kan?  Iya kan?"

Debby menoleh.  "Tidak ada,  sumpah".

"Bener?"

"iya.  Sudah,  ini bukan saatnya berdiskusi.  Kalau ketahuan bu guru,  gimana?"

Rindu mengerti dan tidak mengajukan pertanyaannya lagi.

~~~

Istirahat pertama,  Debby sudah diincar oleh Rindu yang tak henti-hentinya penasaran tentang kelanjutan hubungannya dengan Bemby.  Beragam pertanyaan yang dipendam sejak pelajaran bahasa Indonesia berlangsung akan dikeluarkan sepuas-puasnya.

"Sebenarnya sejauh mana kamu menyamakan Bemby dengan dia yang ada di dalam mimpimu?,  kamu tidak bertanya tentang boneka doraemon yang waktu itu kamu terima?  Sudah pasti itu Bemby yang memberikan.  Itu sih pemikiranku.  Waktu di pantai si Bemby kelihatan menyukaimu Deb" Kata Rindu yang bertanya dengan penuh keseriusan.

Debby tidak pernah berpikir kalau Bemby akan menyukainya seperti yang terlihat di dalam mimpi.  Di dalam mimpi sang pangeran yang mirip dengam Bemby memang menyukainya,  begitu pula dengan Debby sendiri.  Selama ini rasa itu muncul sejak debby menemukan sosok pangeran di mimpinya yang ternyata hadir di dunia nyata.  Apa yang dirasakannya sama,  karena dua sosok itu terlihat persis.  Entah itu kebetulan atau memang takdir,  Debby tetap mensyukurinya.

"Tapi bener loh antara aku sama Bemby itu tidak janjian"

"Yang di gerbang itu?"

"Bukan.  Aku lagi nunggu ibuku.  Semalam dia baru datang dari luar kota.  Ibu bawakan oleh-oleh buat kamu.  Cuma ketinggalan di rumah. Kalau ketemu Bemby di depan gerbang cuma kebetulan saja" Jawaban Debby memberikan penjelasan dan menghilangkan kecurigaan Rindu tentang hubungan Debby dan Bemby.

"Oh jadi begitu" Rindu paham.

#Day18
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara

Sabtu, 02 Juni 2018

CERBUNG (Believe or Not #Part 15)

Akhirnya libur usai juga...

Hari senin,  waktunya menikmati hidup sebagai seorang siswi di salah satu SMA di Jakarta. Memulai hari setelah liburan memang memiliki dimensi yang berbeda.
Itulah yang dirasakan Debby yang terlihat uring-uringan di depan gerbang sekolah.

"Kenapa belum masuk?" Dito datang tiba-tiba.  Membuat Debby tersadar kembali.

"Oh, hai,  pagi" Sapa Debby. "Aku menunggu seseorang".

"Aku ya?"

"Bukan!"

"Terus siapa kalau bukan aku? Rindu?" Tanya Dito penasaran.

Debby menggeleng.

"Terus siapa kalau bukan aku bukan juga rindu?" Dito makin penasaran.

"Apa jangan-jangan.... "

Debby mendorong Dito secara paksa.  Tujuannya hanya untuk menghentikan Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ke Debby.  Dito sama halnya dengan Rindu.  Selalu penasaran dengan apa yang dilakukannya. "Sebaiknya kamu pergi sekarang!".

"Tapi kamu tidak masuk?"

Debby menggeleng lagi.

"Ya sudah.  Aku masuk dulu".

Setelah Dito masuk,  muncullah sosok Bemby.  Seseorang yang dinanti-nantinya.

"Nah,  ketahuan deh kamu.  Rupanya janjian sama Bemby?" Ucap Dito dibalik Pohon.
"Woi,  Dito" Panggil Rindu.  Tanpa disadari,  Rindu juga melakukan hal yang serupa.  Mengintip seseorang yang tidak  disadarinya itu Bemby.

"Kaget kaget kaget.  Aku kira kamu siapa"

"Ternyata yang penasaran bukan aku saja"

"Si Debby kebanyakan rahasia"

Rindu setuju.

Terkuak sudah rahasia amatir dari Debby.  Sejak kepulangan dari liburan,  Debby bertingkah aneh,  tidak seperti biasanya.  Ia lebih banyak tersenyum sendiri. Itulah yang membuat Rindu bertanya-tanya.

"Sepertinya ada sesuatu diantara mereka" Ucap Rindu.

"Ia.  Aku setuju"


#Day17
#RamadhanBerkisah
#PenaJuara


Jumat, 01 Juni 2018

CERBUNG (Believe or Not #Part 14)

Sore hari menjadi hari terbaik untuk pergi berlibur ke pantai.  Terutama masa-masa senja yang memberikan nuansa hangat dan romantis. Debby dan ketiga temannya ingin merasakan suasana itu,  walaupun lebih baik dinikmati bersama dengan pasangan.

Tinggal beberapa menit lagi matahari akan terbenam.  Pantai pun semakin ramai.  

"Alangkah baiknya jika kita pergi dengan pacar masing-masing" Ucap Rindu. 

"Sayang aku jomlo" Sahut Debby. 
"Aku Lajang" Lanjut Dito. 
"Dan aku tidak punya pacar" Balas Bemby. 

Rindu tertawa,  "jadi kesimpulannya kita semua ini jomlo. Tapi anggap saja sekarang kita lagi bersama pasangan masing-masing. Aku dengan Dito,  Debby dan Bemby.  Bagaimana?" 

Debby terkejut.  "Apa itu masuk a.." 
Bemby memotong pembicaraan Debby,  "Aku setuju.  Ide terbaik yang pernah aku dengar". 

Semua terkejut,  tidak terkecuali Debby. Bemby menyetujui permainan tersebut tanpa berpikir panjang.

"Kamu setuju? " Tanya Debby.

Bemby mengangguk keras.  Bertanda tidak ada keraguan dalam dirinya." Kamu tidak suka?"

Debby bingung menjawab pertanyaan Bemby.  Ia memilih diam diantara ya atau tidak. 

"Ayolah,  jangan terlalu serius Deb.  Ini kan hanya pura-pura" Ucap Rindu santai.  

"Okelah"

Rindu yang sedari tadi berada di samping Bemby langsung beranjak pergi menuju Dito. Meninggalkan sahabatnya berdekatan dengan Bemby.  Walau merasa malu-malu, tetapi Debby dan Bemby segera mengatasi masalah tersebut.

Matahari mulai tenggelam.  Bersama deburan ombak di sore hari membawa kedamaian tersendiri.  Hiruk pikuk manusia yang hilir mudik di berbagai arah tidak mempengaruhi suasana tersebut. Yang ada hanyalah damai.  

#Day16
#RamadhanBerkisah 
#PenaJuara